Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tikil: Kami Antar, Kami Nyasar


Kalian niscaya tidak aneh dengan TIKI; Titipan Kilat. Kalian juga niscaya tidak aneh dengan perusahaan jasa pengiriman barang serupa menyerupai JNE, KGP, hingga Lion Parcel. Meskipun biaya pengiriman barangnya tergolong cukup mahal (dihitung per kilogram) tapi jasa pengiriman barang swasta ini cukup ramai. Apalagi ditambah pengirim dan peserta barang sanggup mengecek sendiri, secara online, status barang kiriman tersebut. Apakah masih menunggu di bandara kota asal pengiriman, apakah sudah hingga di kota singgahan, apakah sudah hingga di kota tujuan, dan lain sebagainya. Biasanya bila sudah hingga di kota tujuan dan belum diantar ke rumah, barang tersebut belum dibongkar alias belum siap antar. Waktu menunggu pun paling hanya sehari.

Baca Juga : 

Tapi apakah kalian pernah mendengar TIKIL? Perusahaan jasa pengiriman barang dengan jargon: kami antar, kami nyasar

Memang ada?

Ada! TIKIL ini berbentuk buku setebal 203 halaman.

Iwok Abqary

Adalah teman Blogfam yang saya dan semua anggota Blogfam memanggilnya dengan Kang Iwok. Ya, bila kalian mengeklik tautan blog-nya, memang jarang di-update, mungkin alasannya ialah sibuk menulis. Soalnya dia ini produktif sekali sama urusan menulis dan menerbitkan buku. Kang Iwok ialah pemilik perusahaan TIKIL penulis buku berjudul TIKIL itu. Selain TIKIL, ratusan buku lainnya pernah ditulis oleh Kang Iwok. Diantaranya Duo Tulalit dengan jargon Jalan-Jalan Nyasar, Dog's Love, Gokil Dad (saya diberi kaos Gokil Dad sama Kang Iwok loh), hingga Pengabdi Cilok. Kang Iwok ini jagoannya buku komedi! Saya jamin kalian bakal sangat terhibur dan terpingkal-pingkal bila membaca karya-karyanya yang diterbitkan oleh diantaranya Gagas Media dan Gramedia.

Bertemu dengan Kang Iwok dikala saya pergi ke Tasikmalaya pada tahun 2010. Malam itu, kami nongkrong di sebuah resto waralaba, mengobrol banyak perkara, padahal gres pertama kali itu bertemu. Mungkin alasannya ialah kami sudah usang haha hihi dan merusuh bareng di Blogfam. Malam itu Kang Iwok berbaik hati mengantar saya dan Acie pergi membeli beberapa keperluan di toko maret-maret yang entah saya lupa namanya. Tahun 2011 kami kembali bertemu dalam perhelatan Asean Blogger di Bali. Tentu, masih dengan haha hihi yang menyenangkan.

Bagi saya, Kang Iwok ialah sosok penulis ide yang baik hati dan sangat cerdas dengan ide-ide briliannya. Selain menulis, Kang Iwok juga gemar menanam bunga dan memelihara kucing! Mulia sekali hatimu, Kang. Hahaha.

TIKIL

TIKIL ialah buku yang ditulis oleh lelaki yang saya tulis di atas, hehe. Diterbitkan oleh Gagas Media, buku ini dibuka dengan sub: Bos Baru. Bos baru, Pak Pri, pada perusahaan jasa pengiriman barang ini ternyata punya hobi memasak yang pada awalnya hasil masakan ini bakal bikin orang satu kantor sakit perut! Tapi dari semua huruf di dalam TIKIL, yang paling nancap di benak saya hingga dikala ini ialah Kusmin. Salah seorang tukang bersih-bersih yang punya pekerjaan sampingan di damkar.

Kusmin paling doyan membanggakan piagam penghargaannya.


PIAGAM PENGHARGAAN
Denga ini penghargaan diberikan kepada:
KUSMIN BIN SARMIN
Atas jasa-jasanya sebagai sukarelawan yang sudah
mau membantu menyelamatkan
tanpa memedulikan keselamatan dirinya pada
saat terjadi kebakaran
di rumah Bapak Dadang, Kampung Mancogeh,
Tasikmalaya, 17 Agustus 2005
Pada dikala itu, Kusmin sedang mengikuti lomba
panjat pinang program Agustusan.
Dari atas pinang yang dipanjatnya
dengan susah payah,
dia melihat api yang mulai berkobar
dari rumah Bapak Dadang.
Kalo saja Kusmin tidak berteriak-teriak
dan mengabarkan info kebakaran itu
kepada seluruh warga, sudah dipastikan
rumah Bapak Dadang tidak sanggup diselamatkan.
Tanpa memedulikan hadiah yang bergelantungan
Kusmin menentukan untuk memerosotkan diri
dari batang pinang dan lari menelepon
Dinas Dam-Kar (Pemadam Kebakaran).
Rumah Bapak Dadang pun kesannya terselamatkan
Sehubungan dengan hal tersebut,
Kami memperlihatkan penghargaan ini
dan mengangkat Sdr. Kusmin
sebagai Tenaga Sukarela Dinas
Dam-Kar.

A.n. Dinas Pemadam Kebakaran Tasikmalaya
Dadang Herdiana
Kepala
(sekaligus korban kebakaran pada insiden tersebut)


Piagam penghargaan terkoplak dan sukses membikin saya terbahak-bahak, bahkan dikala membacanya berkali-kali. Lucunya masih sama. Belum lagi cerita Lilis dan Bowo; Lilis pernah menyangka Bowo sebagai Adji Massaid. Itu bikin Bowo lebih sering mematut diri di depan cermin, qiqiqiq. 

Kisah TIKIL ialah bagaimana perusahaan yang di ambang melarat ini sanggup kembali bangkit. Bagaimana cara bangkitnya itu yang membikin pembaca terpingkal-pingkal hingga lupa tanggal lahir. Empat karyawannya rada-rada begitu. Lilis, resepsionis, yang mengidolakan Adjie Massaid. Ada Dasep, kurir yang selalu sial dan menabrak sana-sini. Mang Dirman, kurir lainnya yang sayang banget sama sepeda bututnya (nganter barang pakai sepeda!? :p). Dan si OB peserta piagam penghargaan, Kusmin, yang yah begitulah dirinya.

Ini memang buku usang dengan cetakan pertama tahun 2008. Tapi buku ini jangan hingga lolos dari kehidupan kalian. Rugi bandar hehehe. Wajib baca. Karena, selain cerita konyol wacana sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang hampir melarat beserta bos dan karyawan yang rada-rada sinting, banyak pelajaran yang sanggup dipetik dari buku komedi ini. Salah satunya ialah lakukan sesuatu yang benar-benar kalian minati. Seperti Pak Pri, contohnya, yang pada kesannya membuka Pri's Bakery. Pelajaran lainnya ... silahkan baca sendiri bukunya. Qiqiqiq.

Happy weekend!


Cheers.