Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

[Wn] Shougaku Ichinensei Ni Modotta Node Kenjitsu Ni Ikiru - Chapter 41

 


Translator: Aaldiwang


Editor: Yoshida



Chapter 41 : Tiba di Alun-alun

"Aku disini!"

Terbebas dari kejenuhan saat cuma berjalan, Rinta berlarian menyerupai anjing yang bergairah untuk menyaksikan salju yang segar.

Itu yakni 20 menit perjalanan dari sekolah ke alun-alun terbuka.

Kala itu siang hari kerja, jadi alun-alun sungguh sepi dan nyaris segalanya dipesan untuk kelas kami.

――Tak ada apa-apa disini.

Tak ada fasilitas bermain, tak juga papan seni rupa, yang ada hanyalah area rerumputan dan pepohonan yang luas, betul-betul suatu alun-alun.

Itu yakni akomodasi bermalas-malasan yang tak didedikasikan kecuali untuk karya wisata.

"Sunagawa-kun! Jangan pergi sendirian!"

"Tsk!"

Misato-sensei pribadi mengundang Rinta untuk kembali untuk menangkal murid lain berhamburan alasannya menirunya.

Bagi anak kelas satu yang tidak mempunyai jiwa pemimpin, saat ada satu orang siswa yang terpisah, kalangan tersebut akan terpecah bab demi bagian.

Sebagai guru yang hendak menerangkan ihwal kegiatan wisata, tak ada yang lebih menyulitkan ketimbang hal itu.

"Baiklah kalau begitu, saya akan memberi tahu kalian apa yang dijalankan dalam karya wisata. Pertama――"

Misato-sensei mengatakan pada tiga kelas pertama yang berkumpul di satu tempat.

Sebelum berangkat karya wisata, dia mengingatkan kami bahwa kami akan berlangsung kaki, dan sehabis hingga di alun-alun, dia mengingatkan kami ihwal bagaimana kami menghabiskan waktu kami di alun-alun.

Kupikir itu yakni cara yang paling efisien untuk memberi tahu bawah umur sempurna sebelum rekreasi dimulai, ketimbang memberi tahu mereka di kelas, alasannya mereka mudah sekali melalaikan apa yang dikatakan guru.

Sebagai orang sampaumur yang bijak, saya tahu bagaimana mesti berperilaku tanpa membuat dilema bagi orang di sekitarku, jadi tak dilema bila saya tak mengindahkan perayaan tersebut.

Bagaimanapun, kini yakni waktunya mendengarkan, jadi saya akan menyimak dengan seksama.

"Sho-kun."

Punggungku ditepuk dari belakang, dan saya refleks berputar.

Dari caranya memanggilku, saya cuma sanggup menimbang-nimbang satu orang ihwal siapa yang menepuk pundakku.

"Mizui-san. Ada masalah?"

Ketika itu, tak ada hukum khusus ihwal siapa yang sanggup duduk di satu kawasan yang diurutkan menurut tinggi badan, dan setiap orang bebas duduk dimanapun atau disamping siapapun.

Seringkali, bagaimanapun juga, orang-orang akan dikelompokkan menurut pria dan wanita dan akan duduk sesuai dengan urutan tadi. Tapi pada suasana menyerupai ini, sedikit tidak wajar baginya, yang semestinya duduk di barisan paling belakang, tetapi malah berlangsung ke barisan depan dan berkumpul bareng kalangan laki-laki.

Dia sudah bergeser dari barisan belakang ke barisan nyaris paling depan.

Pasti dia kesini alasannya beberapa alasan―― atau mungkin juga tidak.

Dia akan tiba padaku tanpa argumentasi tertentu. Kupikir itu hal yang sudah kupelajari dari sejak pekan lalu.

"Aku tak sengaja duduk di bersahabat Sho-kun. menyerupai takdir♡.”

Seperti biasa. itulah yang dikatakan Mizui-san.

"Jadi tak ada argumentasi bagimu untuk bicara padaku."

Lagipula memang tak ada alasannya.

..... Aku mulai heran apakah ia betul-betul mengerti arti dari takdir di jaman sekarang.

Kau tak berpikir bahwa takdir dan sesuatu yang tak sanggup disingkirkan itu maknanya berdekatan, kan?

"Tidak, saya punya argumentasi tersendiri."

"Kau tak akan bilang ini yakni kebetulan, kan?"

Takdir bukanlah alasan, dan itu bukanlah sesuatu yang sanggup kamu lemparkan begitu saja.

"Tidak, tidak, ini ihwal makan siang. Aku cuma ingin makan bersamamu."

Itu bukanlah kebetulan, itu murni suatu ajakan.

Jika begitu, akan lebih baik untuk menanti hingga percakapan berakhir.

"Kupikir jikalau saya tak bilang padamu segera, seluruh kursinya akan penuh."

"Itu tak menyerupai tiket konser idol yang populer."

Meski saya memasarkan tiket makan siang bersamaku hari itu, niscaya tak akan terjual. Ia tak perlu melakukan pekerjaan keras bilang padaku.

Tapi saya sungguh bahagia menemukan usul menyerupai itu untuk makan bersama.

Dan mereka berdua.

"Aku tak masalah, tetapi boleh kuajak Rinta bersamaku?"

".....eh?"

Dia merasa terusik alasannya orang yang tak disangka yang keluar dari mulutku.

"Tidak, kami udah janjian untuk makan bareng sebelum Mizui-san bicara padaku."

Tak akan jadi dilema untuk melakukan janjian di hari wisata, tetapi Rinta sudah berupaya dan menghasilkan perjanjian denganku dua hari sebelumnya.

Kukira dia cuma menanti rekreasi itu sendiri ketimbang makan bersamaku, tetapi bagiku, yang tak mempunyai seseorang tertentu yang bersahabat selain Rinta dan Mizui-san, itu yakni usul yang sungguh kuharapkan.

Hal terburuk yang mungkin terjadi yakni saya mesti makan sendirian.

Bagiku, makan bareng Rinta yakni suatu anugrah, tetapi bagi Mizui-san, nampaknya berbeda.

Janganlah terlihat sungguh tak tenteram begitu. Mengapa kamu begitu memusuhi Rinta? Apa kamu ingin balas dendam untuk orangtuamu?

Bagaimanapun, alasannya saya sudah janjian dengannya dua hari kemudian dan dia sudah memegang kata-kataku, saya tak sanggup mundur sekarang.

Aku tak sanggup mundur dari janjiku dengan Rinta demi Mizui-san, dan dia mungkin tak senang, dan saya akan memintanya untuk menerima.

".....Oke. Kalau begitu ayo kita makan bersama, kita bertiga."

Mizui-san, yang mengerti ini, mendapatkannya dengan berat.

"Tapi bolehkah saya minta padamu satu hal?"

"Permintaan?"

"Ya, permohonan sederhana. Aku ingin kamu memberiku waktu berdua denganmu dalam rekreasi ini."

Dia benar, saya bukanlah orang yang ribet.

Tapi dia menghasilkan permohonan ikhlas dengan wajah yang serius.

"Baiklah, tak masalah."

Meski saya resah dengan tingkahnya yang kelewat serius, saya menyetujuinya dengan dua kata.

Karya rekreasi gres saja dimulai. Ada banyak waktu.

Itu mudah saja jikalau permintaannya cuma segitu.

"Kalau begitu perjanjian ya."

Dia membelitkan jari kelingkingnya padaku dan tersenyum.

Aku tidak mau menelan ribuan jarum, jadi saya akan mempertahankan perjanjian itu.


Previous Chapter | Next Chapter


Sumber https://mangabookktranslation.blogspot.com/