[Wn] Kankin Ou - Volume 1 - Chapter 41
Translator: Tanaka
Editor: Tanaka
Chapter 41 - Kau Tersenyum
Dan kemudian malam sudah datang.
Aku menaruh selembar kertas dan tablet ramune di atas meja, dan berbaring di sebelah Masaki.
Aku sudah memberitahu Misuzu bahwa hari Selasa akan menjadi hari terakhirnya, dan ini juga akan menjadi basuh otak terakhir bagi Masaki.
Rencanaku yakni makin Masaki mencintaiku, makin besar lukanya di saat beliau dikhianati.
Mengapa saya mesti pergi sejauh …… itu?
Sejujurnya, saya sudah tidak mempunyai dendam padanya dikarenakan sudah mengkhianatiku lagi.
Tidak, itu tidak hilang, namun …… cukup tipis.
Sebenarnya, saya takut akan hal itu. Aku takut dikhianati lagi.
Masaki-chan menyampaikan kepadaku bahwa beliau mencintaiku.
Tapi saya belum menjalani hidupku sedemikian rupa sehingga saya bisa dengan polos mempercayai kata-kata itu.
Lili menyampaikan kepadaku bahwa bila beliau diperbudak, beliau akan dikunci dalam kondisi itu. Setelah itu terjadi, beliau tidak akan mengkhianatiku lagi.
Namun, satu-satunya yang sudah meraih titik itu yakni Ryoko.
Dan terlepas dari semua usahaku, Misuzu sudah berhenti menyerah, dan Masaki juga berhenti menyerah.
Sejujurnya, saya juga tidak mengetahui mengapa Fujiwara-san sudah meraih kondisi [Ditundukkan], tetapi setidaknya beliau belum meraih kondisi [Diperbudak].
Apa ada perbedaan antara ketiganya dengan Ryoko?
Mungkin mengembangkan perasaan romantis yang wajar secara optimal tidak mengarah pada kondisi [Diperbudak].
Tetapi lebih dari itu, saya berpikir, saya perlu menanamkan keberadaanku terhadap mereka dengan kuat.
Jika berhasil, Masaki akan sungguh terluka, kesal, sinis, dan membenciku dan dunia. Kemudian, beliau bahkan mungkin akan jatuh ke bawah.
Dan saya sanggup menentukan bahwa aku, cuma ada saya sendiri, yang hendak terukir di hatinya.
Itulah yang ku pikirkan, bila saya bisa membawanya ke kondisi [Diperbudak].
Tentu saja, ini cuma hipotesis, dan kemungkinan kehilangannya lebih besar.
Jika memungkinkan, saya ingin menjinjing Misuzu ke kondisi [Diperbudak] pada di saat yang sama, namun itu akan terlalu serakah.
Ketika saya menyebutkan ini terhadap Lili.
[Fumi Fumi baru memulai dalam hal basuh otak, Devi. Meski gagal, jangan depresi, Devi]
Lili memberiku persepsi yang sungguh bagus dan menyampaikan kepadaku bahwa beliau menilai saya akan gagal.
Lalu, saya berpikir, mengapa kau tidak memberi tahuku cara menjinjing mereka ke status [Diperbudak], tetapi tidak ada yang dapat ditangani selain merengek.
Jika hingga pada titik ini, saya tidak mempunyai opsi selain melakukannya.
"Lili, tidak apa-apa sekarang"
Segera sehabis saya menyampaikan itu, pinnya niscaya sudah ditarik keluar. Dan bulu mata Masaki sedikit bergetar. Kemudian, ini yakni permulaan kelanjutan.
"Selamat pagi…… Fumio-kun, Ehehe……"
Masaki-chan tersenyum lembut di matanya yang mengantuk hari ini.
"Selamat pagi. Masaki-chan, tak usang sehabis berdiri tidur, bisakah kau menyaksikan …… ini?"
"Apa itu…?"
Ketika saya menawan tangan Masaki yang lembut untuk membantunya berdiri, kami berlangsung ke meja.
"Ada sesuatu menyerupai ini di atas meja"
Dia menyaksikan ke meja dan membuka matanya lebar-lebar seolah rasa kantuknya sudah hilang.
"Apa itu ……?"
Tidak heran beliau terdiam.
Selembar kertas di atas meja mempunyai ini dicetak di dalamnya dalam abjad gothic.
[Aku sudah mempersiapkan obat kesuburan. Jika kau memasukkannya dan berafiliasi seks dengannya, Kamu niscaya akan hamil. Jika Kamu ingin keluar dari sini, Kamu mesti mengandung anak]
"Kenapa ini bisa terjadi……?"
Yah, itu benar.
Kenapa ini terjadi? saya akan menjajal mencari argumentasi menyerupai itu.
"Sepertinya ada beberapa gadis yang iri dengan kelucuan Masaki-chan. Jadi, mereka menjajal membuatmu mengandung bayi dengan pria jelek untuk melecehkanmu……Kurasa?"
"Aku tidak berpikir kecemburuan akan menjinjing mereka sejauh ini, namun ……. Dalam hal ini, Fumio-kun. Aku tak mau ada yang mempermalukan pacarku. Bukan sebab kau itu jelek, cuma saja bahwa kau agak unik!"
"Oh ya,bterima kasih"
Saat saya berterima kasih padanya, Masaki tertawa kecil.
Dan kemudian, dengan senyum di wajahnya, beliau menyampaikan sesuatu yang keterlaluan.
"Ya …… bila begitu mari kita punya bayi"
"Ya!?"
Aku terkejut dengan ini.
Aku membayangkan bahwa saya mesti membujuk Masaki, yang menangis dan tidak menggemari pemikiran itu, untuk mendapatkannya dengan enggan.
Aku sudah membayangkan pedoman insiden menyerupai itu, tetapi saya terkejut mendengarnya menyampaikan hal menyerupai itu dengan blak-blakan.
Apalagi bila itu Fujiwara-san, saya niscaya akan mengerti, namun itu Masaki yang pendiam dan pemalu.
"Kenapa kau terlihat menyerupai itu? Fumio-kun. Lagi pula, kau sudah memasukkannya berkali-kali ke dalam Memekku ……. Tidak mengherankan bahwa kita sudah melakukannya"
"Itu …… benar, namun itu tidak persis sama dengan menentukan ……"
"Sama saja. Aku tidak bertujuan meninggalkan Fumio-kun, malah makin cepat saya punya anak, makin cepat saya bisa menikah dengan Fumio-kun"
"M-menikah denganku!?"
"Tidak?"
"Tidak, itu tidak ……"
Apa ini? Masaki hebat memaksa.
Apakah sebab beliau punya pacar dan kompleksnya wacana Misuzu sudah melemah? Tampaknya menyerupai itu.
"Itu mungkin yang terbaik sebab ayahku tidak akan pernah membolehkan kita untuk menikah bila kita menjajal untuk menikah secara normal…… Tapi ayahku menakutkan, kau tahu? Dia kepala sekolah. Dia mungkin tidak akan menyetujuinya, beliau niscaya akan memukulmu, namun beliau niscaya akan memberimu kuliah panjang. Semoga sukses dengan itu. Sayang "
"Ah, ya"
Entah bagaimana, orang yang berinisiatif wangsit ini betul-betul terbawa olehnya.
Seolah peduli dengan kebingunganku, Masaki memelukku dengan erat.
Kemudian, di saat beliau menempelkan pipinya ke dadaku, beliau berbisik.
"Maaf…. namun di saat kita bisa keluar dari sini, mari kita laksanakan semua hal yang lazimnya yang ditangani oleh sepasang kekasih. Kita akan berkencan, pergi jalan-jalan, mampir ke kawasan masakan cepat saji sepulang sekolah, dan mengatakan secara acak. "
Tanpa pikir panjang, Masaki dan saya menyatukan bibir kami dan jatuh ke kawasan tidur.
Bibir kami saling melahap dan kami bermain dengan badan satu sama lain.
Masaki terlihat lebih bergairah dari biasanya.
Memeknya mudah basah, dan di saat beliau membuka bibirnya, beliau memandang mataku dan berkata.
"Masukkan beberapa obat itu …… dalam diriku"
Aku memasukkan tablet putih ke dalam Memeknya, mencicipi lipatan dagingnya yang panas dan sudah basah.
"Oh …… rasanya bersoda"
(…… Yah, itu ramune)
Masaki tersipu dan terkikik aib di saat beliau mengambil wajahku di antara tangannya di saat saya mencampakkan muka.
"Silakan masukkan … dan beri Masaki ini bayi"
Aku tidak dapat menahan diri di saat beliau menatapku menyerupai itu.
Jadi, saya menekan Kontolku ke vulvanya dan mendorong pinggulku keluar dengan kuat.
Segera, perasaan lembap menyelimuti Komtolku.
"Nnn… Nnn…"
Masaki mengangkat alisnya dan menutup matanya.
Akhirnya, di saat Kontolku betul-betul terkubur di dalam Memeknya, Masaki menghela napas dalam-dalam.
"Aku akan menjadi …… istri yang cantik. Aku akan memberimu tubuhku …… dan hatiku, jadi tolong cintai saya selamanya …… Haa , Haa ……."
"Aku mencintaimu"
"….Aku juga"
Aku tidak pribadi menggerakkan pinggulku, namun membenamkan wajahku di dada Masaki yang luar biasa.
Kemudian, sambil menghirup aroma manisnya, saya perlahan menggerakkan pinggulku dan melahapnya dengan Kontol ku.
"Rasanya sungguh yummy di dalam Memekmu, Masaki-chan"
"Ah, Ah, Ah… Aku juga merasa enakan, Nn, Nnnh, Nnn! Ahhh… Nnnh!"
Masaki niscaya bahagia dengan suasana dihamili. Karena memeknya lebih panas dari lazimnya dan lebih lembap dari biasanya.
"Haa , Haa , Fumio-kun, kau bisa melaksanakan apapun yang kau mau denganku… Aku ingin menjadi lebih dan lebih menyerupai gadis yang disenangi Fumio-kun"
"Kalau begitu, mari kita menjadikannya lebih sulit"
"A-ahh, ya, A-ahh… Nnnh… Nnn!"
Saat saya mulai menggerakkan pinggulku lebih cepat, Masaki-chan menjadi lebih terangsang dan melingkarkan tangan dan kakinya di sekitarku menyerupai bayi monyet untuk memeluk saya erat-erat.
"Buat saya merasa lebih baik dan lebih baik ……"
"M-Masaki-chan…… Nnggh!"
Pada di saat itu, saya tersedak suaraku.
Sejujurnya, saya terkejut.
Karena Masaki tiba-tiba mulai menggoyangkan pinggulnya dengan terampil dari bawah dan menggosokkan Kontolku ke Memeknya.
Kku pikir beliau berupaya membuatku merasa lebih baik.
Saat kami menggosok badan kami dan menawan napas secara bersamaan, kami menggerakkan pinggul kami tanpa sadar.
"Fuhh, Nnn, Nnn! Ah, Ahh, Ahhh, Ahhhhhh!"
Saat beliau menjadi makin bersemangat, napasnya menjadi makin tidak teratur.
Dan erangannya menggema di seluruh ruangan.
“Fumio-kun, Fumio-kun! Cintai saya lebih banyak lagi…… Jaga aku……. Aku akan menjadi istri yang cantik……. istri yang bagus untukmu… A-ahhh… Nnnnn!"
Masaki mencari cintaku di saat beliau berteriak. Dan bila kau menyampaikan sesuatu menyerupai itu, saya tidak dapat berhenti sekarang.
Kemudian, untuk menjawabnya, saya mendorong ke dalam Memeknya, yang basah, dan Masaki menggerakkan pinggulnya dengan ketakutan untuk melahap Kontolku lebih jauh.
"Cium saya cium aku……"
Aku melahapnya dengan liar di saat beliau mengatupkan mulutnya.
"Chu, Slurp… Chu… Nchu…"
Saat bibir kami terhubung dan kami bermain dengan pengecap satu sama lain, pengecap kami juga saling terkait dengan segi garang lidah, menuangkan air liur, menyesap air liur, minum, dan menjadikannya minum.
"Nfu…… Lidah Fumio-kun rasanya yummy sekali……."
Setelah itu, kami memisahkan lisan kami, dan cuma pengecap kami yang terjalin satu sama lain.
Masaki nampaknya makin terangsang oleh ciuman tidak sepatutnya itu.
Tetapi…
"Nchu, jilat… A-aku tidak dapat lagi… Haa … Haa …"
Masaki-chan hasilnya kepanasan. Tampaknya kesenangan itu menjadikannya kehilangan kekuatannya, dan pinggulnya berhenti bergerak.
"Itu terasa enak. Terima kasih"
"Ehehe……"
Aku dengan lembut membelai kepalanya, dan beliau menyipitkan matanya dengan gembira.
"Aku akan mengorganisir sisanya"
Dengan itu, saya mengangkat kakinya, mengangkat pinggulnya, dan membanting Kontolku ke bawah dengan keras.
"Hii! Tiba-tiba, ini sungguh intens…… Luar biasa! A-ahhh! Nhi! Ah… Ahhhh!"
"Aku akan lebih keras!"
Aku mendorong kakiku lebih jauh ke depan dan membungkukkan tubuhku untuk merusak Memek Masaki, yang kini betul-betul menghadap ke atas, dari atas ke bawah dengan paksa.
"Nhii!? Komtolmj berdenyut-denyut! Tidak, jangan laksanakan itu, kau membuatku gila, N-nnnnn!"
"Jangan khawatir, absurd saja"
Plock! plock! plock! plock!
Aku mengembangkan gerakanku, mendorong jauh ke dalam dirinya. Kelenjarku mendorong rahimnya menyerupai senjata pengepungan yang merusak gerbangnya.
"Nnn, Nnnnn!"
Tiba-tiba, badan Masaki mulai mengejang.
Sepertinya beliau akan Crotttt.
Aku menyaksikan beliau mengatupkan giginya dan menjajal untuk berpegang pada pemikiran klimaks.
Dia terlihat menyerupai itu sekarang.
Tapi saya tidak dapat berhenti di sini. Jadi, saya mendorong kelenjar saya ke dalam rahimnya, lagi dan lagi, mendorongnya lebih keras.
"Nnnh! Aahhhh! A-ahhh… Aku crottttttt, crotttttt, crottttt! Aku crotttttt!"
Tubuhnya bergidik, dan ekspresinya kacau dan tidak bermoral.
Sepertinya beliau sudah Crotttt.
Tapi sekali lagi, saya mungkin sedikit S.
Dan sebab saya belum crot, tidak ada argumentasi untuk berhenti.
Saat saya mendorong lebih keras dan lebih keras ke dalam Memeknya Masaki, beliau merubah nada suaranya.
"Ah, Gya… O-ohhh, Ahh, Ahh… Ahhhh…"
Terengah-engahnya menjadi teredam dan tubuhnya mulai bergetar goyah menyerupai robot yang rusak.
"Wajahmu sungguh bagus sekarang"
"Meskipun kau menyampaikan itu padaku …… Nnn ……"
Mulutnya ternganga, beliau mengeluarkan air liur, dan bahkan hidungnya berair.
Tentu saja, Memeknya kebanjiran, dan cairan cintanya menetes ke titik di mana saya bisa mendengar suaranya menetes.
Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat, dan beliau terlihat menyerupai makhluk yang lengket dan berlendir.
Dan dengan itu, saya ingin menyaksikan apa yang hendak terjadi pada Masaki di masa depan.
Dengan impian menyerupai itu, saya secara paksa menekan keinginanku untuk ejakulasi, yang nyaris meningkat.
Dan untuk menangkal saya Crott terlalu cepat, saya menahan kecepatan pinggul saya dan mencungkil leher rahimnya dengan keras.
"Nnnh! Oh! O-ooh! Ohhh!"
Segera sehabis saya melakukannya, kondisi Masaki menjadi lebih gila.
Dia mengalihkan pandangannya ke atas dan mengeluarkan bunyi kering dari belakang tenggorokannya.
"Aaahhhhh….. Aaahhhhh……!"
Dia tidak lagi terengah-engah tetapi mengerang.
Lidah Masaki menjulur sembarangan, dan beliau memanjat dengan ekspresi tanpa alasan.
(Masaki rusak)
Begitu saya berpikir begitu.
"Ugh!?"
Aku nyaris Crotttt.
Dia niscaya mencicipi pantulan Komtolku di dalam Memeknya. Karena itu, Masaki mengencangkan kakinya di pinggangku.
"Tolong taruh di dalam … buat saya … dengan bayi Papa"
Saat beliau karam dalam lautan kesenangan, tidak ada lagi jejak argumentasi di matanya.
Bahkan, nampaknya beliau memohon untuk dihamili nyaris dengan insting saja.
Tapi saya bahagia wacana itu.
Aku besar hati bahwa saya sudah bisa mendorong Masaki yang pendiam dan pendiam ke tingkat kegilaan ini.
"Bayangkan! Masaki! Bayangkan!"
Aku sungguh bergairah sehingga menghasilkan saya merasa menyerupai sedang terbakar.
Jadi, saya menggoyangkan pinggulku dengan keras.
Aku mendorong keras ke dalam Memeknya, yang lebih panas dan lebih licin dari biasanya.
"Nnnnnnnhhhh! Deeeeeeppp!? Hyahhhhhhhhhh!"
"Aku akan memadamkannya! Ini dia!"
"Ahhhh, uohhh, uohhhhh….. N-nnh!"
masaki nampaknya menjajal menjawab, namun itu tidak lebih dari erangan.
"Memahami!"
Saat saya meneriakkan ini, massa panas yang berputar-putar di sekeliling bola saya meledak.
Menyembur! Spurttttt!
"Puah……!"
Aku mengerutkan kening pada sensasi tajam dan menyakitkan yang menyerangku.
Rasanya terlalu enak.
Namun, Masaki nampaknya lebih dari itu.
"Nhi!? Hyaa, Ahhh! Aaaaahhhhhh!"
Saat air mani dimuntahkan ke dalam Memeknya, beliau terlihat terkejut sesaat, dan kemudian secepatnya parasnya menjadi kendur sebab kesenangan.
Lehernya yang putih terlihat, punggungnya disandarkan ke belakang, dan kakinya, yang diikatkan di pinggangku, direntangkan ke langit-langit.
"…………!"
Dan pada akhirnya, Masaki tidak dapat berbicara.
Setelah naik ke titik puncak dengan lisan ternganga, kekuatannya terkuras dari tubuhnya seperti beliau kekurangan tenaga.
Tapi saya juga berada di batasku.
Aku jatuh untuk membenamkan wajahku di payudaranya yang besar, mencium putingnya dengan ringan dan menjajal menertibkan napas.
Satu-satunya bunyi di ruangan itu yakni napas kami, helaan napas, dan embusan napas kami.
Aku bertanya-tanya berapa usang kami sudah melaksanakan ini.
Setelah beberapa saat.
"…… Masaki-chan"
Aku menjajal menyaksikan wajahnya, namun beliau dengan segera menutupinya dengan tangannya.
"Jangan lihat… aku, kumohon"
"Kenapa tidak? Aku suka wajah seksimu, Masaki-chan"
"Tidak, bukan itu"
"Terus?"
Masaki menggelengkan kepalanya tidak, tidak, tidak, dan saya memiringkan kepalaku ke belakang.
"Karena di saat saya memikirkan…… bayi Fumio-kun di perutku, aku…… panas"
Pada di saat itu, bunyi elektronik dari level atas terdengar.
_______________
Sekarang Masaki-chan juga [Penurut] -> [Ditundukkan]. Biarkan saya luruskan ini. Kurosawa-san: [Penurut]. Masaki-chan: [Ditundukkan]. Fujiwara-san: [Ditundukkan]. Terashima-san: [ Diperbudak]. Kurosawa-san, yang pertama diculik, yakni level terendah.